September 20, 2006...9:33 am

Sepepak Sirih!

Lompat ke Komentar

Salam,

Sekadar pemberitahuan, dusunlaman pindah ke tempat baru. Semula dusunlaman menempati kapling yang disediakan di blog.com. Alamat lengkapnya http://dusunlaman.blog.com.

Mulai hari ini, dusunlaman akan bermukim di kapling yang disediakan wordpress.com. Alamat lengkapnya adalah http://dusunlaman.wordpress.com.

Blog dusunlaman di wordpress ini adalah pendamping untuk dusunlaman.net.

Mohon doa, dan jika tidak keberatan mengirimi naskah untuk berbagi bahan bacaan di blog ini. Satu yang tidak ingin kami ubah adalah, dusunlaman tetap menjadi blog tentang sebuah tanah berapi yang gersang, panas, diperas habis sumberdaya alamnya, Prabumulih.
Salam,

Syam asinar radjam
(Perjalanan, 18 September 2006)

& Komentar

  • Salam,

    Saya sebenarnya kelahiran Prabumulih, besar disana, sekolah di Bandung dan kemudian beraktivitas di Jakarta. Terus terang, saya senang sekali masih ada “Putera Daerah” yang mau mengupas mengenai sisi kehidupan kampung halaman kita ini.

    Kampung kita kaya SDA, tapi setiap kali saya pulang kesana, yang saya lihat bahwa Prabumulih ini bergerak sangat perlahan. Kalaupun kemudian kita di luar Prabumulih membaca media nasional, yang lebih banyak muncul justru masalah kasus korupsi para pemimpin di sana.

    Mudah-mudahan, media ini terus berjalan. Dan juga bisa mempersatukan kita sebagai orang Prabumulih untuk memberikan sumbangan (setidaknya buah pikiran) sesuai dengan kapasitas kita masing-masing,

    Insyallah secara bertahap saya akan ikut nimbrung sejauh apa yang bisa saya ikut pikirkan. Untuk Prabumulih tentunya.

    Arulan Hatta
    Tebet Dalam, Jakarta

  • selamat pindah2…..tetap berapi,

  • Kendaraan yang kukemudikan tak kuat melepaskan diri dari cengkraman lumpur. Suara mesin membangunkan binatang di kebun balam nan sunyi. ” Ayo cuka ambek kayu, kite ganjal bai bannye,” itu seru teman yang ikut kami mengantarkan penumpang ke daerah bberingin. Daun kayu, rumput dan kayu besar diletakkan di ban, badan mobil didongkrak supaya kayu dan daun kayu bisa diselipkan ditengah lumpur. Sia-sia, karena tak juga mampu mengeluarkan mobil dari benaman lumpur itu.

    Tiga hari tiga malam mobil di situ. Menunggu hari panas dan lumpur mengering-sambil berdoa tak ada hujan lagi. Berjalan kaki 10 kilomter untuk mencari makanan. Akhirnya mobil bisa keluar setelah perbaikan beberapa equipmentnya, karena ada rusak akibat kemasukan lumpur, dan kipas radiator diganti, serta kaca pecah. Kegembiraan menghapus kepenatan selama tiga hari tiga malamtidur di hutan. Itulah perjuangan hidup di masa bujangan.

    Menarik untuk ku kenang, dan kuceritakan di sini karena dulu, jalan di Prabumulih seperti jurusan Gunung Kemala, Tanjung Rambang, Sugiwaras, Tanjung Dalam dan lain-lain masih jalan tanah, belum bneraspal. Paling banter disiram minyak mentah oleh Pertamina, itupun jika jalan tersebut menjadi alur transportasi Pertamina, bila tidak..ya lumpur. Sudah lama masyarakat Prabumulih susah, karena kekayaan habis dikuras keluar seperti minyak bumi dan gas, orang tempatan tetap miskin. Ironis lagi, tak banyak putra daerah yang bekerja di Pertamina–entah apa salahnya.

    Itu dulu salam dari rantau – Rumbadi Dalle

  • Prabumulih..aku rindu…


Tinggalkan Balasan