September 20, 2006...9:18 am

Gasing Kembali Ke Prabumulih

Lompat ke Komentar

Permainan rakyat atau permainan tradisional diakui tidak hanya mengadung unsur hiburan. Tetapi juga diakui memiliki kesesesuaian dengan kultur masyarakat lokal, dan mempunyai nilai edukatif (olah pikir, olahraga, dan tentu saja menjadi media membangun hubungan sosial). Permainan tradisional umumnya juga memanfaatkan sumber daya alam secara arif.

Salah satu permainan tersebut adalah permainan gasing atau ‘begasing’. Bermain gasing bukan sekedar menyentakkan tali yang dipuntir pada badan gasing (benda bulat kerucut) hingga berputar, sehingga menimbulkan kesenangan bagi pemainnya. Gasing diakui memiliki nilai edukasi saintifik. Gasing yang berbentuk bulat (agak kerucut) dapat berdiri tegak lurus jika memiliki/diberi gerak. Seringpula dikaitkan dengan filosofi tentang keseimbangan kehidupan dunia, yang jika energi geraknya berhenti maka sebagaimana gasing, dunia akan limbung dan berhenti bergerak. Nilai edukatif lain pada permainan ini adalah mengedepankan permainan bersama orang banyak, kolektifitas, dan mendorong terjadinya interaksi antar banyak orang. Berbeda dengan permainan produk globalisasi yang menjebak pada sifat individualisme seperti permainan video game, misalnya.

Permainan ini dikenal masyarakat di banyak tepat di Indonesia. Masyarakat lokal Prabumulih memainkan permainan ini jika kalender musim menunjukkan waktunya membakar huma, ladang baru (musim penunuan). Biasanya bertepatan dengan bulan Agustus – Oktober pada kalender masehi. Masyarakat Bali, pada saat musim panen padi. Gasing di masyarakat tersebut tidak hanya menjadi permainan, tapi juga olahraga, dan prestise. Pemain gasing yang kalah akan jadi bahan ledekan sepanjang permainan yang ditonton oleh banyak orang.

GLOBALISASI VERSUS KEARIFAN TRADISIONAL

GLOBALISASI adalah kenyataan pasca masa kolonialisasi fisik yang dihadapi negara-negara selatan saat ini. Kenyataan tersebut telah menyebabkan degradasi budaya secara massif, yang menyebabkan masyarakat tradisional mulai meninggalkan kearifan-kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai yang selama dipegang dan menjadi identitas komunitas lokal. Salah satu hal sederhana yang mendapat serangan globalisasi adalah permainan rakyat, yang mulai digantikan dengan permainan-permainan yang diperkenalkan pasar.

KEARIFAN TRADISIONAL barangkali secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “sekumpulan tata nilai yang dipegang dan dijalankan masyarakat tradisonal dengan mengacu pada nilai-nilai hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidup, budaya setempat, dan nilai-nilai yang berlaku di suatu masyarakat. Kearifan tradisional atau kearifan lokal adalah dipercayai sebagai salah satu jawaban atas krisis budaya, dan lingkungan hidup. Kearifan lokal terdapat diseluruh masyarakat Indonesia, dapat ditemui pada pola bercocoktanam, tata-ruang kampung, teknik arsitektur tradisional, racikan obat-obatan, cerita rakyat, bahkan permainan tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami dan dimainkan secara beramai-ramai.

FESTIVAL GASING TRADISIONAL DAN PAMERAN PAKIS HIAS PRABUMULIH 2006

Di dusun Prabumulih, 90 kilometer dari Palembang Sumatera Selatan, Permainan ini sudah mulai tidak ramai diujung dekade 70-an. Masyarakat petani hanya memainkannya di dusun-dusun jauh atau di talang-talang (pemukiman sementara di sekitar wilayah peladangan) sekitar Prabumulih.
Sejak tahun 2003, Mulan Komunitas, sebuah perkumpulan yang peduli pada kearifan tradisional dan budaya lokal menggagas pagelaran Festival Gasing. Festival yang diikuti ratusan pemain gasing dari berbagai dusun tersebut memperebutkan sebuah piala kayu yang bernama “Pehabong Uleh” yang diambil dari nama lama kota Prabumulih.

Tahun ini festival tersebut menurut rencana akan dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2006, bertepatan dengan kalender tradisional mayarakat petani Prabumulih Prabumulih, dimana pada bulan Agustus – Oktober adalah musim penunuan (musim membakar bakal huma/ume/ladang). Dengan demikian kayu bahan baku pembuatan gasing tidak perlu ditebang secara sengaja untuk kebutuhan gasing. Tapi cukup dengan memanfaatkan kayu di areal hutan yang dibuka untuk bakal huma.

Festival gasing memperlombakan kategori bedindang, yang dihitung dari lamanya gasing berputar. Bedindang memiliki dua kategori, posisi anjok dan ipas. Posisi anjok adalah penamaan untuk gasing yang berputar dengan posisi kepala gasing di atas. Sementara posisi ipas adalah sebaliknya. Pemenang kedua kategori ini akan diadu dalam pertandingan utama untuk menentukan pegasing yang layak memegang piala bergilir “Pehabong Uleh”.
Dalam festival ini juga akan diselenggarakan permainan gasing ‘pangkahan’. Yaitu, mengadu kekuatan dua buah gasing atau lebih dengan cara melemparkan agar berbenturan satu sama lain. Pangkahan akan akan menjadi permainan hiburan yang tidak dilombakan.

Festival gasing tahun ini disemarakkan pula dengan pameran pakis hias (fern) yang mulai diminati para peminat (hobbiis) tanaman hias di Prabumulih.

PENUTUP
Akhir kata, semoga pagelaran ini mampu memberikan kontribusi menjadi media pesemaian untuk membangun kembali eksistensi budaya lokal.//

1 Komentar

  • Syam, maaf ye – waktu kakak ipar meninggal , kakak balek ke Prabu-lame juge, sekitar 6 ahi. Tapi dek sempat kemane-mane, mengubungi yang dengan rekomendasikan tu, tapi keburu balek, laju dek betegah. maklum same-same sibuk.

    Makmane khabar di sini, baek-baek kan? – Sukses selalu

    Salam – Kak.Rumbadi Dalle – batam


Tinggalkan Balasan