Oktober 27, 2008...6:51 pm

Lebaran? Makan Daging, Dunk!

Lompat ke Komentar

Catatan Kecil BuRuLi

Judul di atas nggak akan lagi terasa sensasinya oleh sebagian besar kawan-kawan kita yang tinggal di kota, terutama kawan yang datang dari keluarga menengah ke atas. Tapi, judul di atas sungguh bisa “mendirikan bulu roma haru” bagi sebagian besar kawan-kawan kita yang tinggal di desa, tempat yang sebenarnya adalah pusat produksi hewan-hewan penghasil daging tersebut. Kok bisa? Ha ha. Ternyata memang bisa dan demikianlah keadaannya. Ironi selalu nongkrong di tempat-tempat yang lucu… kota sumur minyak yang gelap, kota ladang emas yang miskin dan desa para petani dan peternak yang_ternyata_kurang makan sayur, buah, apalagi… daging!

Dengan berbagai cara, daya, upaya, usaha, pokonya dengan segala kata yang maknanya adalah hal-hal seperti itu, orang-orang desa mengadakan daging saat lebaran, setidaknya untuk… hantaran! Sebab memberi adalah kebahagiaan, dan dapat memberikan yang terbaik di saat terbaik (baca: daging di saat Lebaran) adalah kebahagiaan tersendiri dan menjadi sebuah kebanggaan.

“Ayo, makan… aduh maaf ya, tapi di sini memang sedang nggak ada lauk ayamnya” Ini adalah sepenggal ilustrasi bagaimana keberhasilan menghidangkan yang terbaik adalah sebuah kebahagiaan bagi mereka. “Ayuh.. Nambah lagi atuh, neng! Ayamnya masih banyak!”

Menu daging (ayam, kambing/ domba, kerbau dan sapi) yang dimasak dengan cara nyaris seragam (biasanya gulai atau rendang) diputar-tukarkan antar keluarga, sekedar untuk saling dapat mencicipi masakan kerabatnya. Mengantar tak berarti harus banyak-banyak. Cukup sepiring ini dan itu sebagai tanda bahwa kita mengingat keberadaan orang yang kita kirimi itu.

Ini keren menurut saya. Tak ada pamer, tak ada saling membanggakan apalagi saingan dalam menu daging hidangan lebaran ini. Sebab semua masakan datang dan diadakan dari dan oleh masayarakat yang lebih kurang sama keadaan sosial ekonomimya. Nilai nggak lagi dapat ditakar dengan sekedar harga rupiah di sini. Variasi rasa masakan? Nah, mau nggak mau memang ada lebih dan kurang tapi itu jelas bukan masalah bagi siapapun.

Di kota asal suami saya, Prabumulih, orang kenal dengan apa yang di sebut sebagai “arisan daging”… bahasa keren dari kredit daging, menurut saya… Karena pada prakteknya, orang-orang menyicil uang pembelian daging (sesuai dengan perjanjian) kepada seseorang yang atau sekelompok orang yang dipercaya untuk mengadakan dagingnya (semacam panitia, atau sebetulnya pedagang… ha ha ha). Ibaratnya, orang-orang ini menabung uangnya khusus untuk mengadakan daging hidangan Lebaran.

Heboh memang. Aneka gulai, rendang dan ketupat sudah jadi tradisi Lebaran. Tapi ini menjadi potret buat saya, kenapa daging jadi dipentingkan saat Lebaran, karena tidak setiap hari orang bisa makan daging. Di rumah orang-orang yang kenyang, semangat makan apapun tak lagi dahsyat, apalagi cuma “sekadar” makan daging.###

(BuRuLi: Cijapun, 01 Oktober 2008)

Tinggalkan Balasan