Oktober 27, 2008...6:54 pm

Lebaran Tanpa Mudik

Lompat ke Komentar

Catatan Kecil BuRuLi

Tahun lalu, saya dan suami sempat menikmati gawatnya mudik tanpa duit. Kali ini situasi memaksa kami untuk tidak mudik (dan tetap tanpa duit.. ha ha).

Kami nggak mudik. Tapi kenyataannya kami ini memang sudah dan sedang berada di udik. Kami menikmati Lebaran di kampung tempat kami belajar dan mengusahakan pertanian. Lebaran di dukuh Cijapun. Kurang udik apalagi? Alamatnya saja: Dukuh Cijapun, RT. Nyomplong, Desa Cihaur, Kec. Simpenan, Kab. Sukabumi. Kalo nggak salah lewat google earth masih bisa dicari. Ha ha ha. Lumayanlah!

Sebenarnya kalau kami “mudik”, baik ke daerah asal orangtua saya (Magelang) maupun ke daerah asal suami saya (Prabumulih), keduanya tak bisa disebut sebagai kegiatan mudik. Lebih tepat disebut segagai “ngota”, bukan? Ha ha ha. Apalagi kalau tujuan kami pulang sedang ke Jakarta! Jelas bukan mudik!

Lebaran tanpa mudik (dalam arti pulang ke daerah asal kita), membuat kita lebih kenal dengan orang-orang di daerah tempat kita tinggal sekarang. Contohnya kami di saat ini. Tetangga-tetangga dusun (sebab memang bukan tinggal di rumah sebelah, tapi di dusun sebelah), pada berdatangan. Kamipun berupaya melakukan hal yang sama, bersilaturahmi ke dusun tetangga. Kecuali kalau kita tinggal di dalam kompleks di kota seperti Jakarta. Wah, saya juga nggak yakin apa tetangga sebelah rumah orangtua saya ada saat Lebaran ini di rumahnya. Seringkali kami hanya dapat bertemu dengan perawat rumahnya. Inilah kenyataannya. Dan tak selalu berita buruk, kan? Siapa tahu mereka sedang berlibur di desa tempat neneknya anak-anak? Ha ha ha!

Si Mbak perawat rumah kami dapat dipastikan pulang ke kampungnya saat Lebaran. Biasanya kalau balik lagi ke Jakarta, dia akan membawa serta makanan-makanan khas desanya itu. Ditempat kami tinggal sekarang, di dukuh Cijapun ini, para tamu sedang lebih menikmati kue kaleng dan permen produksi pabrik, lambang “urban” asal Jakarta yang malas memasak penganan sendiri dan lebih fasih membeli…. sementara kami yang sedang berada di kampung ini malah sibuk menikmati makanan kampung kiriman tetangga dusun, langsung, tanpa harus menunggu Si Mbak kembali dari kampungnya. Ha ha ha! Betapa manusiawi pertukaran selera ini.

Lebaran di udik, tanpa mudik!
Suami saya nggak cuma menjamu tamu lebarannya, tapi juga kambing dan domba peliharaannya. Dia pergi ngarit, mencari rumput. Memastikan domba dan kambingnya tetap sejahtera saat Lebaran manusia.###

(BuRuLi: Cijapun, 01 Oktober 2008)

Tinggalkan Balasan