<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Prabumulih News &#38; Info</title>
	<atom:link href="http://dusunlaman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dusunlaman.wordpress.com</link>
	<description>Kabar Lokal &#124; Isu Lokal</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Oct 2008 19:00:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dusunlaman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Prabumulih News &#38; Info</title>
		<link>http://dusunlaman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dusunlaman.wordpress.com/osd.xml" title="Prabumulih News &#38; Info" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dusunlaman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lebaran Tanpa Mudik</title>
		<link>http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-tanpa-mudik/</link>
		<comments>http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-tanpa-mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 18:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editordusunlaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[memoar]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dusunlaman.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil BuRuLi Tahun lalu, saya dan suami sempat menikmati gawatnya mudik tanpa duit. Kali ini situasi memaksa kami untuk tidak mudik (dan tetap tanpa duit.. ha ha). Kami nggak mudik. Tapi kenyataannya kami ini memang sudah dan sedang berada &#8230; <a href="http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-tanpa-mudik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=11&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Kecil BuRuLi</p>
<p>Tahun lalu, saya dan suami sempat menikmati gawatnya mudik tanpa duit. Kali ini situasi memaksa kami untuk tidak mudik (dan tetap tanpa duit.. ha ha).</p>
<p>Kami nggak mudik. Tapi kenyataannya kami ini memang sudah dan sedang berada di udik. Kami menikmati Lebaran di<span id="more-11"></span> kampung tempat kami belajar dan mengusahakan pertanian. Lebaran di dukuh Cijapun. Kurang udik apalagi? Alamatnya saja: Dukuh Cijapun, RT. Nyomplong, Desa Cihaur, Kec. Simpenan, Kab. Sukabumi. Kalo nggak salah lewat google earth masih bisa dicari. Ha ha ha. Lumayanlah!</p>
<p>Sebenarnya kalau kami “mudik”, baik ke daerah asal orangtua saya (Magelang) maupun ke daerah asal suami saya (Prabumulih), keduanya tak bisa disebut sebagai  kegiatan mudik. Lebih tepat disebut segagai “ngota”, bukan? Ha ha ha. Apalagi kalau tujuan kami pulang sedang ke Jakarta! Jelas bukan mudik!</p>
<p>Lebaran tanpa mudik (dalam arti pulang ke daerah asal kita), membuat kita lebih kenal dengan orang-orang di daerah tempat kita tinggal sekarang. Contohnya kami di saat ini. Tetangga-tetangga dusun (sebab memang bukan tinggal di rumah sebelah, tapi di dusun sebelah), pada berdatangan. Kamipun berupaya melakukan hal yang sama, bersilaturahmi ke dusun tetangga. Kecuali kalau kita tinggal di dalam kompleks di kota seperti Jakarta. Wah, saya juga nggak yakin apa tetangga sebelah rumah orangtua saya ada saat Lebaran ini di rumahnya. Seringkali kami hanya dapat bertemu dengan perawat rumahnya. Inilah kenyataannya. Dan tak selalu berita buruk, kan? Siapa tahu mereka sedang berlibur di desa tempat neneknya anak-anak? Ha ha ha!</p>
<p>Si Mbak perawat rumah kami dapat dipastikan  pulang ke kampungnya saat Lebaran. Biasanya kalau balik lagi ke Jakarta, dia akan membawa serta makanan-makanan khas desanya itu. Ditempat kami tinggal sekarang, di dukuh Cijapun ini, para tamu sedang lebih menikmati kue kaleng dan permen produksi pabrik, lambang “urban” asal Jakarta yang malas memasak penganan sendiri dan lebih fasih membeli&#8230;. sementara kami yang sedang berada di kampung ini malah sibuk menikmati makanan kampung kiriman tetangga dusun, langsung, tanpa harus menunggu Si Mbak kembali dari kampungnya. Ha ha ha! Betapa manusiawi pertukaran selera ini.</p>
<p>Lebaran di udik, tanpa mudik!<br />
Suami saya nggak cuma menjamu tamu lebarannya, tapi juga kambing dan domba peliharaannya. Dia pergi ngarit, mencari rumput. Memastikan domba dan kambingnya tetap sejahtera saat Lebaran manusia.###</p>
<p>(BuRuLi: Cijapun, 01 Oktober 2008)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dusunlaman.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dusunlaman.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=11&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-tanpa-mudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5fee3298b8e1cf78973434aeb31bf08?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">editordusunlaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lebaran? Makan Daging, Dunk!</title>
		<link>http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-makan-daging-dunk/</link>
		<comments>http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-makan-daging-dunk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 18:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editordusunlaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[memoar]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dusunlaman.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil BuRuLi Judul di atas nggak akan lagi terasa sensasinya oleh sebagian besar kawan-kawan kita yang tinggal di kota, terutama kawan yang datang dari keluarga menengah ke atas. Tapi, judul di atas sungguh bisa “mendirikan bulu roma haru” bagi &#8230; <a href="http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-makan-daging-dunk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=7&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Kecil <a href="http://bungarumputliar.multiply.com">BuRuLi</p>
<p></a>Judul di atas nggak akan lagi terasa sensasinya oleh sebagian besar kawan-kawan kita yang tinggal di kota, terutama kawan yang datang dari keluarga menengah ke atas. Tapi, judul di atas sungguh bisa “mendirikan bulu roma haru” bagi sebagian besar kawan-kawan kita yang tinggal di desa, tempat yang sebenarnya adalah pusat produksi hewan-hewan penghasil daging tersebut. Kok bisa? Ha ha. Ternyata memang bisa dan demikianlah keadaannya. Ironi selalu nongkrong di tempat-tempat yang lucu&#8230; kota sumur minyak yang gelap, kota ladang emas yang miskin dan desa para petani dan peternak yang_ternyata_kurang makan sayur, buah, apalagi&#8230;<span id="more-7"></span> daging!</p>
<p>Dengan berbagai cara, daya, upaya, usaha, pokonya dengan segala kata yang maknanya adalah hal-hal seperti itu, orang-orang desa mengadakan daging saat lebaran, setidaknya untuk&#8230; hantaran! Sebab memberi adalah kebahagiaan, dan dapat memberikan yang terbaik di saat terbaik (baca: daging di saat Lebaran) adalah kebahagiaan tersendiri dan menjadi sebuah kebanggaan.</p>
<p>“Ayo, makan&#8230; aduh maaf ya, tapi di sini memang sedang nggak ada lauk ayamnya” Ini adalah sepenggal ilustrasi bagaimana keberhasilan menghidangkan yang terbaik adalah sebuah kebahagiaan bagi mereka. “Ayuh.. Nambah lagi atuh, neng! Ayamnya masih banyak!”</p>
<p>Menu daging (ayam, kambing/ domba, kerbau dan sapi) yang dimasak dengan cara nyaris seragam (biasanya gulai atau rendang) diputar-tukarkan antar keluarga, sekedar untuk saling dapat mencicipi masakan kerabatnya. Mengantar tak berarti harus banyak-banyak. Cukup sepiring ini dan itu sebagai tanda bahwa kita mengingat keberadaan orang yang kita kirimi itu.</p>
<p>Ini keren menurut saya. Tak ada pamer, tak ada saling membanggakan apalagi saingan dalam menu daging hidangan lebaran ini. Sebab semua masakan datang dan diadakan dari dan oleh masayarakat yang lebih kurang sama keadaan sosial ekonomimya. Nilai nggak lagi dapat ditakar dengan sekedar harga rupiah di sini. Variasi rasa masakan? Nah, mau nggak mau memang ada lebih dan kurang tapi itu jelas bukan masalah bagi siapapun.</p>
<p>Di kota asal suami saya, Prabumulih, orang kenal dengan apa yang di sebut sebagai “arisan daging”&#8230; bahasa keren dari kredit daging, menurut saya&#8230; Karena pada prakteknya, orang-orang menyicil uang pembelian daging (sesuai dengan perjanjian) kepada seseorang yang atau sekelompok orang yang dipercaya untuk mengadakan dagingnya (semacam panitia, atau sebetulnya pedagang&#8230; ha ha ha). Ibaratnya, orang-orang ini menabung uangnya khusus untuk mengadakan daging hidangan Lebaran.</p>
<p>Heboh memang.  Aneka gulai, rendang dan ketupat sudah jadi tradisi Lebaran. Tapi ini menjadi potret buat saya, kenapa daging jadi dipentingkan saat Lebaran, karena tidak setiap hari orang bisa makan daging. Di rumah orang-orang yang kenyang, semangat makan apapun tak lagi dahsyat, apalagi cuma “sekadar” makan daging.###</p>
<p>(BuRuLi: Cijapun, 01 Oktober 2008)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dusunlaman.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dusunlaman.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=7&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dusunlaman.wordpress.com/2008/10/27/lebaran-makan-daging-dunk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5fee3298b8e1cf78973434aeb31bf08?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">editordusunlaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepepak Sirih!</title>
		<link>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih-2/</link>
		<comments>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 09:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editordusunlaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[editorial]]></category>
		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih-2/</guid>
		<description><![CDATA[Salam, Sekadar pemberitahuan, dusunlaman pindah ke tempat baru. Semula dusunlaman menempati kapling yang disediakan di blog.com. Alamat lengkapnya http://dusunlaman.blog.com. Mulai hari ini, dusunlaman akan bermukim di kapling yang disediakan wordpress.com. Alamat lengkapnya adalah https://dusunlaman.wordpress.com. Blog dusunlaman di wordpress ini adalah &#8230; <a href="http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=5&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Sekadar pemberitahuan, dusunlaman pindah ke tempat baru. Semula dusunlaman menempati kapling yang disediakan di blog.com. Alamat lengkapnya http://dusunlaman.blog.com.</p>
<p>Mulai hari ini, dusunlaman akan bermukim di kapling yang disediakan wordpress.com. Alamat lengkapnya  adalah https://dusunlaman.wordpress.com.</p>
<p>Blog dusunlaman di wordpress ini adalah pendamping untuk <a href="http://dusunlaman.net">dusunlaman.net</a>.</p>
<p>Mohon doa, dan jika tidak keberatan<span id="more-5"></span> mengirimi naskah untuk berbagi bahan bacaan di blog ini. Satu yang tidak ingin kami ubah adalah, dusunlaman tetap menjadi blog tentang sebuah tanah berapi yang gersang, panas, diperas habis sumberdaya alamnya, Prabumulih.<br />
Salam,</p>
<p>Syam asinar radjam<br />
(Perjalanan, 18 September 2006)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dusunlaman.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dusunlaman.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dusunlaman.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dusunlaman.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=5&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5fee3298b8e1cf78973434aeb31bf08?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">editordusunlaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ironi dan Komedi Lumbung Energi Nasional</title>
		<link>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/ironi-dan-komedi-lumbung-energi-nasional/</link>
		<comments>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/ironi-dan-komedi-lumbung-energi-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 09:20:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editordusunlaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[memoar]]></category>
		<category><![CDATA[prabumulih]]></category>
		<category><![CDATA[sustainable development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/ironi-dan-komedi-lumbung-energi-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil Syam Asinar Radjam Dalam pemahaman tradisional, lumbung adalah tempat penyimpanan hasil panen, dari musim panen ke musim panen berikutnya. Isi lumbung bisa berupa padi, jagung, atau hasil bumi lain yang dapat bertahan lama. Kesemuanya sengaja dipersiapkan untuk menghadapi &#8230; <a href="http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/ironi-dan-komedi-lumbung-energi-nasional/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=4&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Kecil <a href="http://dusunlaman.net">Syam Asinar Radjam</p>
<p></a>Dalam pemahaman tradisional, lumbung adalah tempat penyimpanan hasil panen, dari musim panen ke musim panen berikutnya. Isi lumbung bisa berupa padi, jagung, atau hasil bumi lain yang dapat bertahan lama. Kesemuanya sengaja dipersiapkan untuk menghadapi masa paceklik. Dalam pemahaman itu pula, sesuatu yang disimpan di dalam lumbung adalah sesuatu yang bersifat berkelanjutan (<em>sustainable</em>).</span></p>
<p><span id="more-4"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Akhir-akhir ini, kita mengenal pula istilah lumbung pangan. Sudah barang tentu, yang dimaksudkan adalah suatu daerah atau kawasan yang memiliki kawasan pertanian penghasil pangan dalam jumlah besar. Pengistilahan ini tentu dapat diterima mengingat lumbung pangan mengandung dua prasyarat mendasar sebagai lumbung. Penyimpanan dan berkelanjutan. Sekalipun ada kalanya terdapat kemungkinan, fungsi penyimpanan tidak berfungsi lantaran hasil panen di kawasan lumbung pangan habis didistribusikan ke daerah lain. Tapi, <em>toh</em> tetap berkelanjutan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pada gilirannya dikenal pula pula istilah lumbung energi. Sebutlah sebagai sebuah penamaan baru bagi tempat eksploitasi sumber daya energi. Lumbung energi berawal dari obsesi Gubernur Sumatera Selatan, Syahrial Usman. Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menyetujui pencanangan Sumatera Selatan sebagai Provinsi Lumbung Energi Nasional.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sebagaimana dikutip dari harian Kompas (10 November 2004), Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, <em>&#8220;Provinsi Sumatera Selatan akan didorong menjadi lumbung energi kelistrikan nasional. Caranya, membangun infrastruktur yang mengandalkan kekayaan sumber daya alam di wilayah tersebut, terutama gas, batu bara, dan air. Diharapkan, energi yang diperoleh dapat dioptimalkan untuk mengatasi kelangkaan pasokan energi listrik di Sumsel, di samping menyumbang energi ke wilayah lain di Sumatera dan Jawa.&#8221;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pernyataan Presiden RI tersebut tentu mengandung sejumlah konsekuensi logis. Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), akan terjadi peningkatan laju pengerukan sumber daya energi fosil di Sumsel dan gencarnya pembangunan infrastruktur pendukungnya. Kondisi ini dapat diperkirakan bakal menimbulkan masalah di sekitar lokasi pembangunan seperti konflik lahan, alih fungsi dan masalah sosial ekonomi. Di samping itu, berdampak besar pada kelestarian lingkungan. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Tak Berkelanjutan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Lupakan sejenak tentang konsekuensi logis tadi. Sebab, persoalan yang lebih mendasar justru berada pada hal ‘teramat sepele’. Istilah! </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Dari istilah saja, lumbung energi sudah keliru. Obsesi menjadi lumbung energi sama sekali tidak mengandung arti sebagai tempat penyimpanan sumber energi yang berkelanjutan. Pada tataran ide, lumbung energi hanya bermodalkan potensi minyak bumi, gas alam dana batubara, atau sering disebut sumber energi fosil. Ditambah dengan sumber energi panas bumi dan gas metan yang diperkirakan juga dikandung Sumatera Selatan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sumber-sumber energi tersebut tergolong sebagai sumber energi yang tak terbarui, yang dapat dikeruk habis. Artinya, lumbung energi bukanlah tempat penyimpanan energi yang berkelanjutan. Jadi, penamaan lumbung energi nasional tidaklah berlebihan jika dianggap sebagai jargon semata. Maknanya tidak lebih mulia ketimbang wilayah perahan energi nasional.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Memang, potensi sumber daya energi Sumatera Selatan, terhitung luar biasa. Potensi minyak bumi, gas alam, dan batubara dapat dilihat pada tabel berikut:</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;">
<tr>
<td colSpan="3" width="571" vAlign="top" style="border-right:black .75pt solid;border-top:black .75pt solid;border-left:black .75pt solid;width:428.4pt;border-bottom:black 1.5pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><span>Tabel Potensi Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:.75pt solid;width:104.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Batubara </span></strong></p>
</td>
<td width="19" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;width:14.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>:</span></p>
</td>
<td width="413" vAlign="top" style="border-right:.75pt solid;border-top:medium none;border-left:medium none;width:310.1pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">22 milyar ton (60 persen cadangan nasional)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:.75pt solid;width:104.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Minyak Bumi</span></strong></p>
</td>
<td width="19" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;width:14.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>:</span></p>
</td>
<td width="413" vAlign="top" style="border-right:.75pt solid;border-top:medium none;border-left:medium none;width:310.1pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">512 juta barel (10 persen cadangan nasional)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:.75pt solid;width:104.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Gas Alam</span></strong></p>
</td>
<td width="19" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;width:14.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>:</span></p>
</td>
<td width="413" vAlign="top" style="border-right:.75pt solid;border-top:medium none;border-left:medium none;width:310.1pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>7 trilyun kaki kubik (9 persen cadangan nasional)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:.75pt solid;width:104.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Panas Bumi</span></strong></p>
</td>
<td width="19" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;width:14.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>:</span></p>
</td>
<td width="413" vAlign="top" style="border-right:.75pt solid;border-top:medium none;border-left:medium none;width:310.1pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>1.335 mega watt (masih dalam penelitian)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:.75pt solid;width:104.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Gas metan</span></strong></p>
</td>
<td width="19" vAlign="top" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;width:14.15pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>:</span></p>
</td>
<td width="413" vAlign="top" style="border-right:.75pt solid;border-top:medium none;border-left:medium none;width:310.1pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>20 triliun kubik (masih </span><span>dalam penelitian)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colSpan="3" width="571" vAlign="top" style="border-right:.75pt solid;border-top:medium none;border-left:.75pt solid;width:428.4pt;border-bottom:.75pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Dari berbagai sumber</span></strong></p>
</td>
</tr>
</table>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Jumlah persedian energi tersebut didengung-dengungkan tak akan habis pakai selama 250 tahun. Fantastik! Maka perlu dieksploitasi. Padahal dapat disebut lumbung energi, seharusnya sumber-sumber energi yang dimaksud adalah sumber energi terbarukan atau dapat diperbarui. Contohnya, energi air, angin, sinar matahari, biomassa dan biogas.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sekadar catatan, Sumatera Selatan diperkirakan memiliki cadangan tenaga air setara dengan 516 mega watt dan biomassa setara 448 juta liter minyak. Sayangnya, tidak dipersiapkan desain dan teknologi pemanfaatan sumber-sumber energi ini. Alih-alih dijadikan modal dasar pada konsep lumbung energi. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Promosi lumbung energi lebih mengedepankan sumber-sumber energi tak terbarukan. Minyak bumi, gas bumi, batubara dan panas bumi lebih menjadi modal dasar dalam mewujudkan provinsi ini sebagai Lumbung Energi. Khususnya, melalui pembangunan ketenagalistrikan dan penyediaan energi bahan bakar dan industri. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Ironi dan Komedi</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Masalah kedua adalah kepada siapa konsep ini diabdikan. Kepada masyarakat atau kepada pemodal. Bagi masyarakat sumsel, lumbung energi adalah perpaduan ironi, kegetiran, dan sekaligus komedi. Persedian energi Sumatera Selatan yang didengung-dengungkan tak akan habis pakai selama 250 tahun tak menjawab kebutuhan riil masyarakat.<span> </span>Hingga tahun 2006, masyarakat di 726 desa atau 30 % dari jumlah desa di provinsi ini belum memiliki fasilitas listrik (Kompas, 20 februari 2006). </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Desa Sinar Rambang yang sangat dekat dengan kota minyak Prabumulih salah satu contohnya. Meski di desa ini terdapat beberapa sumur minyak dan gas &#8212; yang boleh jadi diperuntukkan bagi beberapa pembangkit listrik skala besar&#8211;, jaringan listrik PLN tidak mencapai ke desa tersebut. Satu-satunya fasilitas listrik terdapat di stasiun pengumpul minyak yang dikelola perusahaan rekanan pertamina. Tak pelak masyarakat harus menyediakan listrik sendiri. Sejumlah kepala keluarga bergotong-royong membeli generator set sendiri untuk penerangan beberapa rumah. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Tak hanya kekurangan listrik, Sumatera Selatan pun tak luput dari kelangkaan bahan bakar minyak. Kelangkan minyak tanah bahkan diperkirakan akan kembali melanda masyarakat sumsel pada bulan puasa, okteber 2006 nanti (Sriwijaya Post, 20 Juni 2006).</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Ironisnya, di saat masyarakat mengalami kekurangan listrik maupun bahan bakar minyak, Sumatera Selatan memasok gas alam untuk pembangkit listrik di Singapura. Sebanyak 430 juta kaki kubik gas alam disalurkan melalui jaringan pipa menuju Singapura setiap harinya. Dalam waktu dekat, gas sumatera selatan juga akan disalurkan untuk memenuhi 60 % kebutuhan energi Jakarta dan Jawa Barat. Jumlahnya 400 hingga 600 juta kaki kubik gas setiap harinya. Ironis, memang!</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Fakta tersebut berseberangan dengan pernyataan Syahrial Usman yang dikutip koran Tempo (30 november 2004). Menurutnya, bila Sumatera Selatan tidak menjadi lumbung energi, krisis energi bakal terjadi di daerah ini. Cadangan energi yang ada akan tersedot ke luar sumatera selatan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><em><span>So, what</span></em><span>?! Meski demikian Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan sudah punya jawaban untuk itu! Penyelesaian krisis listrik akan teratasi dengan dibangunnya pembangkit-pembangkit listrik di propinsi ini. Hal tersebut diharapkan terwujud jika Sumatera Selatan mendapatkan alokasi pembangkit listrik tenaga uap yang sebesar 10.000 mega watt yang dicanangkan PLN. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Apa lacur, alokasi proyek yang dinanti-nantikan memberikan jawaban lain. Gubernur Sumatera Selatan dan para pendukung lumbung energi harus gigit jari. Sebab, tak satu pun dari seluruh proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara untuk memenuhi 10.000 mega watt dibangun di propinsi ini. Peraturan presiden (Perpres) nomor 71 dan 72, menyebutkan pembangunan PLTU justru dibangun di propinsi yang tidak memiliki sumber energi batubara. Yaitu, tiga PLTU di Banten, dua PLTU di Jawa Barat, dua PLTU di Jawa Tengah dan tiga PLTU di Jawa Timur. Tadinya, Pemerintah Sumatera Selatan berharap dijatahi pembangit listrik 3000-4000 mega watt. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Kenyataan tersebut membuat mimpi tarif listrik murah karena diberlakukan secara regional di Sumatera Selatan, jauh panggang dari api. Pun demikian dengan mimpi mengurangi jumlah penduduk miskin maupun pengangguran.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Menggagas lumbung energi berkelanjutan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Gagasan tentang lumbung energi bukan suatu yang mustahil. Bukan sebuah utopia. mengingat potensi sumber energi alternatif (yang berkelanjutan) juga melimpah di bumi Sumatera Selatan. Sumber-sumber energi inilah yang mesti menjadi prioritas pengembangan dan pemanfaatan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Tentu ada beberapa prasyarat untuk mewujudkan lumbung energi (sekali ini sudah dilengkapi dengan kata) berkelanjutan. Pertama dan kedua adalah ketersedian teknologi serta ketersedian manusia yang siap mengoperasikan teknologi tersebut. Prasyarat ketiga adalah ketersediaan modal.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Bila sumsel belum mengenal teknologinya, belum pula memiliki tenaga operator yang memadai, serta belum bisa membangunnya secara swadaya dengan pendanaan yang bersumber dari pendapatan asli daerah, tunda sejenak mimpi lumbung energi. Memaksakan diri membangun pembangkit listrik dengan teknologi yang belum dikenal masyarakat lokal, dan dibangun dari utang, hanya memperparah kondisi. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pengelolaan sumber daya alam dalam segala bidang, termasuk bidang energi, harus mengedepankan prinsip keadilan antar generasi. Sangat tidak bijak mengeksploitasi sumber energi hanya untuk kepentingan sesaat. Prinsip dasar penggunaan energi adalah ‘<em>the more you use, the<span> </span>more you loose’</em>, makin yang dipakai makin banyak kehilangan!</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sophuan Yusfiansyah, Dewan Daerah Walhi Sumatera Selatan, mengatakan saat ini Sumatera Selatan perlu melakukan moratorium atau jeda waktu pengerukan energi.<span> </span>Sembari menunggu kesiapan teknologi dan modal (yang bukan utang) untuk membangun lumbung energi berkelanjutan, tenaga lokal dikirim belajar ke tempat-tempat yang telah menguasai teknologinya. Sehingga, tenaga lokal akan terlibat penuh dalam pengelolaan sumber energi. Angka kemiskinan dan pengangguran tidak dapat diselesaikan dengan konsep basi ‘efek bergulir’ atau <em>multiplyer effect.</em> Pada kebanyakan kasus di sekitar industri atau pertambangan, efek bergulir yang dimasud hanya mengubah masyarakat lokal yang semula pemilik lahan menjadi buruh kasar atau pedagang kakilima.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Dengan kesiapan tersebut, ditambah dukungan politik nasional, Sumatera Selatan sebagai lumbung energi nasional adalah sesuatu yang niscaya. Bukan hanya sebuah mega-proyek yang hanya menguntungkan pemodal. Kemalasan menggagas ulang konsep lumbung energi dapat berakibat fatal. Sumber energi hanya dinikmati segelintir kelompok saja, tanpa memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan. Bahkan mungkin lebih parah. Ibarat tikus mati di lumbung energi, masyarakat sumsel miskin di lumbung energi.//</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dusunlaman.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dusunlaman.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dusunlaman.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dusunlaman.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=4&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/ironi-dan-komedi-lumbung-energi-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5fee3298b8e1cf78973434aeb31bf08?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">editordusunlaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gasing Kembali Ke Prabumulih</title>
		<link>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih/</link>
		<comments>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 09:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editordusunlaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[indigenous]]></category>
		<category><![CDATA[kearifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[memoar]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[prabumulih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih/</guid>
		<description><![CDATA[Permainan rakyat atau permainan tradisional diakui tidak hanya mengadung unsur hiburan. Tetapi juga diakui memiliki kesesesuaian dengan kultur masyarakat lokal, dan mempunyai nilai edukatif (olah pikir, olahraga, dan tentu saja menjadi media membangun hubungan sosial). Permainan tradisional umumnya juga memanfaatkan &#8230; <a href="http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=3&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permainan rakyat atau permainan tradisional diakui tidak hanya mengadung unsur hiburan. Tetapi juga diakui memiliki kesesesuaian dengan kultur masyarakat lokal, dan mempunyai nilai edukatif (olah pikir, olahraga, dan tentu saja menjadi media membangun hubungan sosial). Permainan tradisional umumnya juga memanfaatkan sumber daya alam secara arif.  </p>
<p>Salah satu permainan tersebut adalah<span id="more-3"></span> permainan gasing atau ‘begasing’. Bermain gasing bukan sekedar menyentakkan tali yang dipuntir pada badan gasing (benda bulat kerucut) hingga berputar, sehingga menimbulkan kesenangan bagi pemainnya. Gasing diakui memiliki nilai edukasi saintifik. Gasing yang berbentuk bulat (agak kerucut) dapat berdiri tegak lurus jika memiliki/diberi gerak. Seringpula dikaitkan dengan filosofi tentang keseimbangan kehidupan dunia, yang jika energi geraknya berhenti maka sebagaimana gasing, dunia akan limbung dan berhenti bergerak. Nilai edukatif lain pada permainan ini adalah mengedepankan permainan bersama orang banyak, kolektifitas, dan mendorong terjadinya interaksi antar banyak orang. Berbeda dengan permainan produk globalisasi yang menjebak pada sifat individualisme seperti permainan video game, misalnya.</p>
<p>Permainan ini dikenal masyarakat di banyak tepat di Indonesia. Masyarakat lokal Prabumulih memainkan permainan ini jika kalender musim menunjukkan waktunya membakar huma, ladang baru (musim penunuan). Biasanya bertepatan dengan bulan Agustus – Oktober pada kalender masehi. Masyarakat Bali, pada saat musim panen padi. Gasing di masyarakat tersebut tidak hanya menjadi permainan, tapi juga olahraga, dan prestise. Pemain gasing yang kalah akan jadi bahan ledekan sepanjang permainan yang ditonton oleh banyak orang.</p>
<p>GLOBALISASI VERSUS KEARIFAN TRADISIONAL</p>
<p>GLOBALISASI adalah kenyataan pasca masa kolonialisasi fisik yang dihadapi negara-negara selatan saat ini. Kenyataan tersebut telah menyebabkan degradasi budaya secara massif, yang menyebabkan masyarakat tradisional mulai meninggalkan kearifan-kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai yang selama dipegang dan menjadi identitas komunitas lokal. Salah satu hal sederhana yang mendapat serangan globalisasi adalah permainan rakyat, yang mulai digantikan dengan permainan-permainan yang diperkenalkan pasar. </p>
<p>KEARIFAN TRADISIONAL barangkali secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “sekumpulan tata nilai yang dipegang dan dijalankan masyarakat tradisonal dengan mengacu pada nilai-nilai hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidup, budaya setempat, dan nilai-nilai yang berlaku di suatu masyarakat. Kearifan tradisional atau kearifan lokal adalah dipercayai sebagai salah satu jawaban atas krisis budaya, dan lingkungan hidup. Kearifan lokal terdapat diseluruh masyarakat Indonesia, dapat ditemui pada pola bercocoktanam, tata-ruang kampung, teknik arsitektur tradisional, racikan obat-obatan, cerita rakyat, bahkan permainan tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami dan dimainkan secara beramai-ramai.</p>
<p>FESTIVAL GASING TRADISIONAL DAN PAMERAN PAKIS HIAS PRABUMULIH 2006</p>
<p>Di dusun Prabumulih, 90 kilometer dari Palembang Sumatera Selatan, Permainan ini sudah mulai tidak ramai diujung dekade 70-an. Masyarakat petani hanya memainkannya di dusun-dusun jauh atau di talang-talang (pemukiman sementara di sekitar wilayah peladangan) sekitar Prabumulih.<br />
Sejak tahun 2003, Mulan Komunitas, sebuah perkumpulan yang peduli pada kearifan tradisional dan budaya lokal menggagas pagelaran Festival Gasing. Festival yang diikuti ratusan pemain gasing dari berbagai dusun tersebut memperebutkan sebuah piala kayu yang bernama  “Pehabong Uleh” yang diambil dari nama lama kota Prabumulih. </p>
<p>Tahun ini festival tersebut menurut rencana akan dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2006, bertepatan dengan kalender tradisional mayarakat petani Prabumulih Prabumulih, dimana pada bulan Agustus – Oktober adalah musim penunuan (musim membakar bakal huma/ume/ladang). Dengan demikian kayu bahan baku pembuatan gasing tidak perlu ditebang secara sengaja untuk kebutuhan gasing. Tapi cukup dengan memanfaatkan kayu di areal hutan yang dibuka untuk bakal huma.</p>
<p>Festival gasing memperlombakan kategori bedindang, yang dihitung dari lamanya gasing berputar. Bedindang memiliki dua kategori, posisi anjok dan ipas. Posisi anjok adalah penamaan untuk gasing yang berputar dengan posisi kepala gasing di atas. Sementara posisi ipas adalah sebaliknya. Pemenang kedua kategori ini akan diadu dalam pertandingan utama untuk menentukan pegasing yang layak memegang piala bergilir “Pehabong Uleh”.<br />
Dalam festival ini juga akan diselenggarakan permainan gasing ‘pangkahan’. Yaitu, mengadu kekuatan dua buah gasing atau lebih dengan cara melemparkan agar berbenturan satu sama lain. Pangkahan akan akan menjadi permainan hiburan yang tidak dilombakan. </p>
<p>Festival gasing tahun ini disemarakkan pula dengan pameran pakis hias (fern) yang mulai diminati para peminat (hobbiis) tanaman hias di Prabumulih. </p>
<p>PENUTUP<br />
Akhir kata, semoga pagelaran ini mampu memberikan kontribusi menjadi media pesemaian untuk membangun kembali eksistensi budaya lokal.//</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dusunlaman.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dusunlaman.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dusunlaman.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dusunlaman.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dusunlaman.wordpress.com&amp;blog=425917&amp;post=3&amp;subd=dusunlaman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dusunlaman.wordpress.com/2006/09/20/sepepak-sirih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5fee3298b8e1cf78973434aeb31bf08?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">editordusunlaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
